Lukisan Tentang Rasa – Bagian Pertama

Published December 17, 2013 by prinprincess

Hidup memang membingungkan. Kadang kita berakal sehat, kadang kita begitu tak waras. Kadang kita merasa mencintai, kadang kita merasa membenci. Kita kebingungan, padahal kita tahu apa yang benar, apa yang sesungguhnya, apa yang harus dipercaya dan apa yang harus diabaikan. Tapi kita selalu dalam proses menuju dewasa, hal yang kita akui benar, akan menjadi salah ketika persepsi kita berjalan ke arah yang berbeda. Dan kita dituntut untuk selalu kembali ke jalan yang benar, yang telah ditentukan oleh Sang Khalik.

Cinta merupakan bagian terpenting dalam hidup. Itu sebabnya cinta juga sama membingungkannya dengan kehidupan. Kadang kita begitu naïf, kadang kita menjadi arogan. Terjebak dalam roman remaja adalah saat-saat di mana semua orang seakan harus mengalaminya. Beberapa mungkin memulainya ketika dewasa. Tapi masa remaja memang masa yang paling tepat untuk menikmati lika-liku perjalanan mencari pasangan sejati. Masa remaja, ketika hati masih sangat rapuh. Semua hal menjadi begitu dramatis dan ironis. Bagi sebagian orang mungkin sesuatu yang mudah. Tapi segalanya tak pernah semudah yang mereka pikirkan. Beruntung mereka yang serius menghadapinya dan mengambil pelajaran darinya.

Banyak orang bilang, dua orang yang ditakdirkan untuk bersama, akan selalu menemukan jalan kembali walau mereka dipisahkan oleh berbagai hal yang seringkali membuat mereka sama sekali tak yakin dengan satu sama lain. Satu hal yang perlu kita ingat, bahwa Tuhan adalah pemilik dari seluruh kisah. Tuhan jugalah yang memegang arah kemudi dari setiap kisah cinta di alam ini, manusia maupun hewan. Kita tidak pernah tahu apa yang direncanakan Tuhan untuk kita. Indah ataupun tidak, pada akhirnya akan menjadi sesuatu yang membahagiakan. Semua tergantung perspektif pribadi.

Pernahkah terpikir oleh kita bahwa sahabat yang setiap hari ada untuk kita ternyata merupakan orang yang ditakdirkan untuk mendampingi hidup kita selamanya? Atau coba lihat orang yang di sana, yang kita tidak pernah menginginkan percakapan dengannya, bagaimana jika di masa depan nanti kitalah yang memohon pada Tuhan untuk dipersatukan dengannya walau hanya dalam percakapan singkat? Oh, perhatikan daftar mantan kekasih kalian sekarang dan coba pikir, bagaimana jika salah satu dari mereka ternyata merupakan masa depan yang akan sangat kamu inginkan di kemudian hari? Bagaimana bisa kita bertemu seseorang yang bukan siapa-siapa di masa sekarang kemudian mereka menjadi seseorang yang sangat berharga di masa depan sampai kita rela mengabdi padanya di bawah atap rumah tangga? Bisa. Tak ada yang tak bisa dilakukan oleh Tuhan. Dan kita hanya bisa mengupayakan yang terbaik.

Sekarang secara pribadi, aku ingin mencurahkan sesuatu, sesuatu yang tak bisa kuungkapkan di dunia nyata.

Untukmu, seseorang yang pernah berbagi masa lalunya denganku.
Hari ini aku memang bukan siapa-siapa bagimu. Kamu hanya menganggapku teman. Dan aku tidak memiliki jaminan untuk mengatakan bahwa kita akan saling membutuhkan di masa depan nanti. Tapi untuk saat ini, aku bisa jamin bahwa aku mencintaimu. Rasa ini tidak lagi sama seperti dua tahun lalu. Rasa ini mengalami banyak pembaharuan yang aku yakini mendewasakan. Dulu, cinta ini begitu mencarimu, dengan penuh ego cinta ini menginginkanmu jadi miliknya seutuhnya. Dulu, cinta ini begitu benci diabaikan, benci ditinggal sendirian. Cinta ini masih terlalu egois, terlalu cengeng, terlalu penuh drama. Seiring waktu, sejak kamu menjadi tak bahagia lagi dengan rasaku, aku mulai mengerti. Bahwa cinta bukanlah tentang kepemilikan, tapi tentang penghargaan. Cinta yang menggebu-gebu adalah cinta yang tidak sehat, membuat jiwa sakit berkepanjangan. Keikhlasan dan kebesaran hati adalah penyembuhnya. Cinta tidak pernah memaksa. Cinta memiliki hasrat, namun tak pernah harus melawan garis takdir. Karena cinta selalu menemukan jalannya sendiri. Itu yang telah kupelajari dan telah diterapkan dalam cinta yang aku punya untukmu saat ini. Aku, meskipun berhasrat besar ingin selalu bersamamu dan ingin memilikimu, sekarang akhirnya memahami bahwa cinta tidak selalu cukup. Ada takdir yang memandu kisah kita, ada kamu yang tak memiliki cinta yang sama denganku, ada orang lain yang akan berdiri di antara kita; entah itu menggenggam tanganmu atau tanganku atau bahkan kita sama-sama menggenggam tangan yang lain.

Kuakui itu menyakitkan. Tapi akan lebih menyakitkan bila melihat kamu tidak bahagia ketika bersamaku, ketika memiliki cintaku. Memaksamu untuk kembali pulang padaku hanya akan memperburuk keadaan.

Kamu tahu, belakangan ini aku selalu mencarimu dengan begitu liar dan buas. Hari-hari yang kulewati tanpa melihatmu membuatku gelisah sepanjang hari. Padahal, kamu di sekolah, aku di sekolah, kita di sekolah. Tapi kenapa aku tidak bisa bertemu denganmu? Kenapa di sekolah yang tak seluas kota Bandung itu aku tetap tak bisa melihatmmu barang sedetik saja? Bahkan saat aku mencarimu dengan keras, bertanya kesana kemari, aku tetap tidak dapat menemukanmu. Kamu tahu betapa frustrasinya aku saat itu? Kamu tahu betapa rindu yang tak terobati ini menyiksaku? Kemudian aku tahu kamu sudah di rumahmu.

Oleh sebab itu, setiap pertemuan denganmu adalah harta yang membuat persediaan kenanganku semakin kaya. Berharga walau kita tak saling bertatapan. Semakin berharga ketika kita saling menyapa, bahkan berbincang. Aku tahu, sejak kita berpisah, pertemuan kita tak pernah sempurna, tak pernah begitu lengkap, selalu ada yang hilang. Kenangan yang masih begitu melekat di benakku adalah pertemuan kita di masjid sekolah hari Rabu, tanggal 11-12-13. Pertemuan inilah yang membuat tanggal yang kata orang cantik itu benar-benar menjadi cantik buatku. Kala itu kita baru selesai menunaikan shalat, hari sedang hujan. Aku lebih dulu keluar. Aku tahu tempat menyimpan sepatu kita sama. Aku tak berniat menunggumu, tapi ternyata aku ingin menunggumu meskipun aku tidak berusaha menunggumu saat itu. Aku memakai sepatu dengan kecepatan seperti biasanya, tidak diperlambat, yah, sedikit, aku baru paham bahwa detik-detik saat itu ternyata begitu mempengaruhi pertemuan kita. Kamu akhirnya keluar. Aku sudah sampai di penghujung tahap memakai sepatu. Di sana ada Puput dan Tio juga. Ketika aku benar-benar selesai, dengan bodohnya aku berkata, “Puput, Tio, Agri, duluan ya..” Kamu tahu kenapa aku sebut itu bodoh? Ya, karena aku mengatakannya dengan suara kecil dan aku tidak benar-benar memanggil kalian. Tapi, mata kita bertemu, meskipun aku ragu kamu mendengar suara kecilku di tengah hujan itu. Kamu menatapku singkat dan mengangguk kecil. Saat itu juga aku berpaling dan melangkah pergi. Tapi, ada satu hal yang menggangguku, entah ini telingaku yang salah atau ilusi atau memang kenyataan tapi sebelum aku benar-benar pergi dari tempat itu, kudengar kamu berkata, “Hati-hati.” Bolehkah aku menganggap itu nyata? Karena suaramu memang terdengar jelas dan nyata di telingaku saat itu. Aku tidak menduga kata-kata itu akan keluar dari mulutmu meskipun aku tahu kamu melakukannya pada semua orang. Yang menggangguku adalah, bahwa saat itu aku tidak membawa tas, aku tidak benar-benar duluan pulang, tapi kamu berkata begitu. Aku menganggap orang hanya akan mengatakan “hati-hati” kepada orang yang benar-benar akan pulang dalam kasus ini sekolah. Ya, mungkin kamu menganggap aku akan langsung  pulang setelah shalat kala itu. Tapi bolehkah aku menganggap kamu mengatakannya atas dasar tulus, bukan hanya sekedar formalitas? Bolehkah aku juga menganggap kamu mengatakannya karena kamu khawatir aku akan terpeleset di jalanan sekolah yang dibasahi air hujan itu? Kuharap boleh, meskipun bukan itu yang sebenarnya kamu pikirkan. Tapi asal kamu tahu, hanya dengan berpikir seperti itu, aku merasa sangat senang. Senang sekali. Aku langsung masuk ke toilet karena kalau tidak, senyumku akan terekspos kesana kemari dan membuatku terlihat seperti idiot.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: