Lukisan Tentang Rasa – Bagian Kedua

Published December 17, 2013 by prinprincess

Kita mundur satu hari, tanggal 10-12-13. Hari itu adalah hari di mana kamu bermain futsal pada pekan olahraga sekolah. You know, itu saat yang paling kutunggu-tunggu. Makanya aku rela tidak ikut teman-teman pulang sebelum melihat kamu bermain walau artinya aku harus pulang sendirian lagi. Hari itu banyak sekali pertemuan denganmu. Yang paling membekas adalah pertemuan yang satu ini. Ketika itu aku sedang berbincang dengan adik kelas di ujung lorong mading dengan begitu fokus karena kami membicarakan tentang organisasi yang cukup penting. Setelahnya, aku tidak melirik kiri kanan lagi dan langsung berbalik lurus menuju lorong kelas 12 IPS, tasku ada di kelas 12 IPS-1. Lorong mading dan lorong kelas 12 sepi saat itu. Tapi kulihat di depan ada Fida dan Puput sedang berjalan ke arah yang berlawanan denganku sehingga kami berjalan berhadapan. Tepat sebelum aku berpapasan dengan mereka berdua, entah saraf otak bagian mana yang menyuruh kepalaku berputar melihat ke belakang. Kamu. Kamu di belakangku, berjalan di  belakangku. Seketika itu juga aku langsung memutar kepalaku kembali dan melambaikan tangan pada Puput dan Fida yang berpapasan denganku. Voila, terjadilah adegan bisu dalam lorong. Aku dan kamu, kita, hanya kita, berjalan berdua di lorong. Ya, ya, tidak, kita tidak berjalan berdampingan, aku di depanmu dan kamu di belakangku. Haaa, sumpah, itu adegan yang menggemaskan sekali! Satu yang kupikirkan setelah tragedi bisu itu adalah, darimana kamu datang? Dari kiri? Kanan? Atas? Dalam imajinasiku, Tuhan meraihmu dari tempat lain kemudian meletakkanmu tepat di belakangku, kamu tahu, mungkin seperti dalam game. Silahkan berimajinasi. Karena kehadiranmu di sana benar-benar tidak terduga olehku. Itu cukup mengagetkan, ya, seperti yang kamu tahu, aku selalu berlebihan seperti ini. Tapi inilah yang kurasakan.

Sadarkah kamu bahwa kita selalu dipertemukan dalam cara-cara yang sebenarnya sederhana, tapi membuatku berpikir seperti, “Waw” atau “It’s unexpected.” Aku pernah meluangkan waktuku untuk memikirkan hal ini, dan kesimpulanku, cara Tuhan mempertemukan kita sangat luar biasa. Ah, kamu ingat tadi aku membicarakan aku yang mencarimu tapi tidak menemukanmu? Aku telah menemukan solusinya. Kalau memang aku telah menunggu dan mencarimu tapi pada akhirnya kita tetap tidak bertemu juga, aku akan berpikir, “Tuhan akan mempertemukan kita di waktu yang lebih baik nanti.” Itu cukup membantu mengatasi kegelisahanku, kamu tahu, menyerahkan semuanya pada Tuhan setelah kita mengupayakan adalah solusi terbaik.

Kamu mungkin merasakannya. Perbedaan sikapku ketika kamu punya kekasih baru dan ketika kamu tidak punya kekasih. Aku menjadi begitu dingin ketika kamu punya kekasih. Bukan benci, bukan iri, bukan gengsi. Aku hanya tahu diri. Aku tak mungkin lagi menunjukkan perasaanku ketika kamu sudah dimiliki dan memiliki orang lain. Itu hanya akan menjadi suatu kebodohan hidup. Makanya aku mundur. Di hari pertama aku tahu kamu punya kekasih baru, aku banyak gelisah. Semua menjadi begitu emosional bahkan gerakan tangan dan kakiku. Tiga ribu pesan singkat yang berisi percakapan kita semasa kita menjalin hubungan spesial itu langsung kuhapus bersih tanpa sisa, tanpa jejak. Semua fotomu yang ada di ponselku kuperlakukan sama. Aku pikir, hari itu, aku  benar-benar akan menghilangkan kamu dari dalam hidupku. Mengeluarkanmu dengan paksa sampai tak ada jejakmu maupun aroma tubuhmu yang “menyebalkan” itu. Dan semua berjalan sesuai rencana. Aku tak begitu emosional di hari-hari berikutnya. Semua menjadi biasa. Bahkan ketika ada acara MPK, kamu mengirimiku pesan singkat dan aku membalasnya dengan biasa, sangat biasa, terlalu biasa, terlalu dingin, terlalu bukan diriku. Kamu tahu, itu pertama kalinya aku sinis dan dingin dalam hal membalas pesanmu. Aku tidak pernah bisa memperlakukanmu dengan dingin seperti itu, dan aku cukup terkagum karena aku bisa melakukannya. Dan ketika kamu menyapaku hendak pulang, aku tak berkata-kata, hanya tersenyum tipis dan mengangkat alis. Lagi-lagi terlalu bukan diriku. Ternyata aku benar-benar tak bisa berakting menjadi teman biasamu. Maaf ya!

Dan ketika kamu putus dengan kekasihmu itu, aku tidak merasa senang, tidak pula merasa sedih. Kupikir rasa ini mati hingga tak bisa merasakan apapun lagi. Tapi kemudian aku membiarkannya hidup kembali. Entah aku ini bodoh atau apa. Kelulusan sebentar lagi, itu artinya aku harus siap berpisah denganmu sambil masih membawa rasa ini. Ah, nyaris tiga kali sudah aku mengalami peristiwa ini. Lulus sekolah sambil menyisakan perasaan yang tak tersampaikan. SD, SMP, dan haruskah SMA juga demikian? Muak. Sakit. Kuharap pertemuan dengan orang-orang di kampus nanti akan lebih menyenangkan dan mendewasakan sehingga aku bisa cepat-cepat menanggalkan rasa yang tertinggal untukmu ini. Tapi siapa yang tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari? Hanya Tuhan.

Aku selalu bertanya-tanya apa yang kamu pikirkan tentangku setelah semua ini terjadi. Tebakanku, tak ada yang spesial. Aku hanya seonggok nyawa yang pernah sedikit kamu sayangi di masa lalu kan? Sekarang, tak akan lebih baik dari itu. Aku? Aku masih melihatmu sebagai permata yang kalau aku dapatkan, tak akan pernah aku biarkan lepas lagi. Biarlah perbedaan pandangan tentang kita satu sama lain ini tak mengganggu. Kita sekarang akan selalu apa adanya, diam dalam diam. Aku terlalu berpikir buruk lagi. Itu kebiasaan yang tak akan pernah mendatangkan sesuatu yang baik, aku tahu. Bahkan nilai minus untukku di matamu, bisa saja.

Kamu sekarang sedang mencari perempuan seperti apa? Kuharap yang paling mencintai Sang Rahman. Kamu ingat ketika hubungan kita sedang dalam masa-masa yang menegangkan? Kita berbicara dengan, yah, kupikir cukup serius, di depan kelas X-1, yang sekarang kelas X-IIS-1. Kamu ingat apa saja yang kita bicarakan? Aku pun tidak begitu mengingatnya. Aku ingat bahwa kamu menyampaikan pertimbanganmu tentang ‘memiliki seorang pacar’. Kamu bilang kamu ingin fokus belajar untuk masuk FTTM ITB. Hal itu mempengaruhi hubungan kita. Kamu juga bilang kalau keluargamu menyarankanmu untuk memiliki seorang kekasih nanti saja, ketika kamu sudah kuliah, atau entah apa waktu itu namanya. Aku sangat menghormati apa yang kamu sampaikan padaku. Aku sangat mengerti, kamu tak pernah menyepelekan masa depan pendidikanmu. Aku sangat mengerti, kamu tak pernah tidak mempedulikan apa kata keluargamu. Kamu adalah pria yang mencintai keluarganya, dan itu adalah salah satu alasan mengapa aku menaruh hati padamu. Tapi aku juga mengerti, kamu belum sedewasa itu untuk bertindak tegas. Dan saat itu, aku belum cukup dewasa untuk memahami situasimu lebih jauh lagi. Terbukti kan? Setahun berlalu, bulan-bulan di masa pertengahan SMA nyaris sampai di penghujung, dan kamu akhirnya memiliki kekasih baru. Itu tidak membuktikan bahwa kamu mempertimbangkan “fokus belajar” dan “punya pacarnya nanti lagi saja” dalam hubungan barumu sebagaimana halnya yang pernah kamu utarakan kepadaku. Kita berdua tahu, kita sama-sama melakukan kesalahan, banyak kesalahan. Kamu tahu kesalahanku, dan aku tahu kesalahanmu. Kekeliruan dan instabilitas emosi dan pikiran adalah resep yang penting dalam sebuah proses kedewasaan. Kita beruntung jika kita telah melaluinya, karena artinya kita semakin dewasa. Seperti yang banyak orang bilang, jika kita tidak melakukan kesalahan, kita tidak akan pernah mempelajari sesuatu yang baru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: