Wangi yang Menghantui

Published October 31, 2013 by prinprincess

Kamu pernah merasakannya, kan? Kamu pernah tiba-tiba merasakan ada wangi parfum tubuhku di sekitarmu. Kamu juga pernah mengatakan bahwa kamu mencium aromaku di pakaianmu secara tiba-tiba pula. Dulu aku bilang, itu tanda bahwa kamu merindukanku. Dan kamu mengiyakan. Entah kamu bersungguh-sungguh atau tidak.

Aku mungkin mengalami hal itu lebih sering darimu; tiba-tiba aku mencium wangi tubuhmu di tempat yang tidak terduga. Saat kita masih bersama, aku pasti langsung memberitahumu, aku senang mengalaminya. Aku sangat menyukai parfum yang kamu pakai di masa itu. Aroma kesayanganku. Aroma yang selalu kurindukan.

Setelah kita berpisah, kamu mungkin sudah tidak pernah lagi bertemu dengan aromaku, tapi berbeda denganku. Ternyata setelah kamu pergi pun wangi itu masih sering muncul tiba-tiba, mungkin datang untuk mengingatkanku padamu, membuatku semakin sulit merelakan kepergianmu, juga membuatku merindukanmu lagi dan lagi. Terkadang, rasanya menyakitkan. Karena aku tak tahu harus bagaimana menyikapi wangi yang begitu kusukai justru menusuk luka lama yang akhirnya kembali terbuka lebar setiap kali aku mencium aromamu. Dengan keadaan seperti itu, bagaimana aku bisa berpaling darimu?

Setiap orang memiliki wangi parfum yang berbeda-beda tubuhnya, kadang itu menjadi khas pribadi  masing-masing. Bahkan tanpa parfum pun, setiap orang sudah memiliki aroma tubuhnya sendiri. Termasuk kamu. Dan aku sangat mengingat keduanya; parfum dan juga aroma tubuhmu. Mengapa? Padahal kan, aku sudah 16 tahun, aku sudah mencium lebih dari satu milyar aroma di dunia ini. Tapi mengapa hanya wangi tubuhmu yang sepertinya tersimpan abadi dalam benakku?  Mengapa hanya wangi tubuhmu, yang seringkali datang menemuiku? Apa ada teori ilmiah yang dapat menjelaskannya? Kalau iya, beritahu aku, aku akan sangat senang mendengarnya. Karena aku tidak perlu lagi menyangkutpautkan hal ini dengan perasaanku, perasaan yang seharusnya tak lagi ada.

Entah itu dalam jarak yang dekat denganmu, ataupun jauh, wangi itu selalu mungkin untuk datang. Seperti hari ini, aku selesai shalat dzuhur di sekolah, dan aku melihatmu di barisan jama’ah berikutnya, dan wangi tubuhmu terpancar sampai ke luar, sampai tepat di hidungku. Itu aroma tubuhmu yang tanpa parfum. Lagi, ketika jam pelajaranku (TIK) telah selesai, wangi tubuhmu datang kembali dengan singkat ketika aku berjalan melewati koridor kelas 10, itu jarak yang jauh darimu. Dan itu aroma parfum yang pertama kali kusukai, ya, wangi parfum sebelum kita berpacaran. Kamu ingat kan kalau dulu aku pernah bilang padamu bahwa aku sangat menyukai wangi parfummu? Betul, aroma parfum yang itu yang tadi datang. Pernah dulu aku mencium aromamu ketika aku sedang berjalan-jalan bersama temanku, seperti biasa, setiap kali aku mencium aroma itu, aku dengan reflek berhenti bergerak. Temanku bertanya mengapa. Kujawab bahwa aku baru saja mencium aroma parfummu yang pertama kusukai tadi, dan temanku cukup terkejut. Ia kaget karena aku begitu mengingat wangi parfummu yang dulu maupun wangi setelah kamu berganti parfum. Kalau aku sih, tidak terkejut, aku hanya tidak habis pikir mengapa aku bisa begitu.

Aku tidak tahu apa kamu masih memakai parfum, yang jelas, masih atau tidaknya kamu menggunakan parfum, tetap saja wangi itu selalu menemuiku di manapun. Menurutmu, mengapa hal demikian bisa terjadi padaku? Apa sepenting itu wangi tubuhmu? Seberarti itukah kamu bagiku? Kamu tidak akan pernah tahu.

Bahwa kamu, lebih dari sangat berarti bagiku.

Di akhir cerita ini, biarkan aku menyanyikan sebuah lagu. Bukan untukmu, hanya untuk menunjukkan padamu seperti apakah tepatnya perasaanku saat ini padamu.

Melewatkanmu di lembaran hariku, selalu terhenti di batas senyumanmu
Walau berakhir cinta kita berdua, hati ini tak ingin dan selalu berdusta
Melupakanmu takkan mudah bagiku, selalu kucoba namun aku tak mampu
membuang semua kisah yang telah berlalu
Di sudut relung hatiku yang membisu,
ku merindukanmu…

Harusnya ku telah melewatkanmu, menghapuskanmu dari dalam benakku
Namun ternyata sulit bagiku merelakanmu pergi dari hatiku

Selalu ingin dekat tubuhmu, namun aku tak bisa
Karena kau telah bahagia…

(Melewatkanmu by Adera)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: