Seorang Pemukul

Published October 31, 2013 by prinprincess

Akhir-akhir ini kamu sedang belajar bermain gitar kan? Apalagi kamu sedang menyukai perempuan itu, yang sudah bisa bermain gitar terlebih dahulu, yang gemar bermain gitar. Kamu pasti makin bersemangat.

Kamu masih ingat salah satu imajinasiku yang pernah kuutarakan padamu? Dalam imajinasiku, kamu datang ke rumahku pada hari ulang tahunku dan bermain gitar untukku. Kemudian kamu meresponnya dengan, “Oke deh, ntar aku belajar dulu.” Lantas kini aku bertanya padamu, sejak saat itu, pernahkah kamu mencoba belajar bermain gitar untukku sekali saja? Pernah? Mustahil. Bagi perempuan, ucapanmu itu bisa dianggap sebuah janji. Maka dari itu, kusarankan untuk selalu berhati-hati dalam ucapanmu terutama kepada perempuan. Karena jika tidak, kamu akan dianggap sebagai seseorang yang hanya obral janji.
‘Kau yang berjanji, kau yang mengingkari’, kalimat itu mungkin juga akan terus ditujukan padamu. Berhati-hatilah, sebab perempuan mudah mempercayai perkataan laki-laki yang dicintainya. Kita tak dapat saling menyalahkan dalam soal ini.

Aku pernah mendengarmu bermain gitar. Kamu memainkan melodi yang sekarang menjadi melodi kesukaanku, tidak, bukan hanya karena kamu pernah memainkannya, tapi karena memang melodi itu pas dengan seleraku. Terlebih lagi melodi itu dimainkan dengan gitar yang dipetik. Klasikal, favoritku. Kamu pernah mengatakan bahwa kamu juga lebih senang dengan gitar yang dipetik, karena katamu itu lebih romantis. Dan kita sependapat. Entah sekarang kamu  bagaimana, kalau aku sih masih menyukai gitar petik. Sial, aku merindukan permainan gitar petikmu.

Tapi secara pribadi, aku lebih suka kamu bermain di atas panggung perkusi. Memukul. Berdasarkan penglihatanku, auramu ketika bermain perkusi lebih terpancar, sangat kharismatik. Gerakan tanganmu yang lincah yang menimbulkan suara tabuhan yang khas, membuat kamu lebih dan lebih keren lagi. Aku lebih dari serius. Entahlah, ini kan pandangan seorang perempuan yang mencintaimu, jelas subjektif. Tapi itu benar-benar yang kupikirkan dan kurasakan. Ketika aku membayangkanmu bermain drum, kamu lebih keren lagi. Yah, beruntung kamu tidak fokus belajar drum, apalagi hebat dalam hal itu, karena aku sudah dipastikan akan semakin mencintaimu dan semakin sulit merelakanmu kalau kamu benar-benar seorang pemain drum yang ahli.

Perkusi. Seolah itu duniamu, seperti sudah sangat menyatu dengan dirimu.
Gitar, aku melihatnya mengambang dalam dirimu, tak berkarakter. Entah mungkin aku yang tidak terbiasa melihatmu bermain gitar dan terlalu sering melihatmu bermain perkusi.

Lagipula, semua pendapatku ini tak akan pernah kamu perhatikan, kan? Siapa yang mau mendengarkan pendapat dari mantan kekasihnya? Kurasa tidak ada. Terkecuali, orang-orang yang masih bertahan menyayangi mantan kekasihnya. Tapi kamu kan tidak. Makanya, kamu pasti tak akan menggubris perkataanku walau hanya satu kata. Karena kamu benar-benar telah melemparkanku di masa lalumu, dan tak akan pernah melihatku kembali.

Sampai di sini dulu, Tuan Perkusi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: