Masih tentang 21 Oktober 2013: Kegelisahan Rindu

Published October 31, 2013 by prinprincess

Malam tiba. Tepat di malam hari, satu tahun yang lalu, aku terbaring di tempat tidurku tak berkutik, aku dalam keadaan yang sangat lemah. Lemah fisik serta batin. Sungguh berlebihan, bukan? Tapi yah, diputuskan oleh kekasih yang sangat dicintai, siapa yang tidak bersedih? Hanya mungkin, sedihku bertransformasi menjadi sebuah penyakit fisik, segala tekanan batin itu membuat kepalaku semakin sakit dan suhu tubuhku meningkat. Nafsu makanku hilang ditelan derita. Apalagi ketika aku ingat ada tugas Ekonomi yang harus dikumpulkan esok harinya. Sungguh, kamu tak tahu betapa aku kesusahan saat itu.

Tahun ini, syukur aku sehat. Aku terbaring di tempat tidurku dengan suhu tubuh normal. Tapi luka di hari itu mengembalikanku kepada masa lalu. Aku tak bisa terlelap dengan mudah seperti biasanya. Kedua mataku sudah tertutup, namun pikiranku begitu terbuka dari segala arah, ditambah hatiku gelisah tak menentu. Padahal aku sudah mengucap segala doa yang kutahu. Ketika aku membuka kembali beberapa SMS darimu yang sudah usang dimakan waktu itu, aku merasa lebih tenang. Saat itulah aku menyadari bahwa aku sedang merindukanmu, tapi bukan rindu yang seperti biasanya… Entah kenapa, rindu kali ini dahsyat sekali sampai-sampai air mataku menetes hingga akhirnya mengalir deras. Segala kenangan bersamamu berkelebat kesana kemari, bergolak dengan hebat, membuatku terombang-ambing dalam keindahan masa lalu. Aku menangis sendirian di kamar lagi, untuk yang kesekian kalinya.

Namamu berdengung keras. Oh, aku benar-benar tidak mampu menahan semua rasa ini lagi. Ingin rasanya aku menghubungimu malam itu juga untuk mengatakan bahwa aku merindukanmu setengah mati. Namun yang kulakukan hanyalah mengetik sebuah kalimat singkat, “Gri, aku kangen bgt…” dengan namamu sebagai recipient-nya, yang pada akhirnya hanya tersimpan di Draft. Tak mungkin kan aku kirimkan pesan semacam itu dalam keadaan di mana aku-tidak-penting-lagi-bagimu? Aku hanya berharap pesan itu disampaikan oleh Allah kepadamu entah itu lewat mimpi atau firasat. Aku hanya ingin kamu tahu, bahwa ada perempuan yang di malam itu sangat menginginkanmu untuk berada di sisinya, bahwa ada perempuan yang ingin air matanya kamu hapuskan malam itu, bahwa ada perempuan yang sangat merindukanmu. Meskipun di akhir, kamu tetap tak akan kembali.

Suatu hari nanti, bila umurku masih tersisa sedikit-banyak, bolehkah kita berbicara berdua saja untuk yang terakhir kalinya? Sebab aku merasa umurku semakin mendekati batasnya, dan aku tak ingin meninggalkan dunia ini tanpa memberitahumu bagaimana dahsyatnya perasaan yang kumiliki untukmu. Aku ingin kamu mengerti bahwa kamu sangat berarti dan sangat berharga bagi seseorang; aku.

Keesokan harinya, 22 Oktober 2013

Selamat pagi, kamu! Bagaimana keadaanmu? Tadi kita bertemu di lorong sekolah ya? Ya, aku masih suka salah tingkah di depan teman-temanku setiap kali ada kamu. Kelihatan sekali kan tadi? Maaf ya, kalau kamu agak risih. Aku tidak bermaksud.

Karena kamu tidak akan menanyakan kabarku lagi seumur hidupmu, maka aku yang akan menceritakan sendiri keadaanku, ya. Rasa rinduku sudah distabilkan. Hatiku mulai kembali tenang. Tapi kali ini keadaan fisikku yang membuat gelisah. Sebenarnya, ketika masih di rumah, gejala sakitku sudah muncul, hanya tidak begitu terasa. Baru sampai di sekolah, segalanya dimulai. Aku kambuh. Kepalaku sakit lagi entah untuk yang keberapa kalinya. Tapi bedanya, sangat terasa sekali kalau kepalaku yang sakit itu di sebelah kiri. Kepalaku jadinya timpang rasanya. Ngilu, karena berdenyut cukup kuat. Parahnya, sakitnya sampai ke mata kiriku, benar-benar ketimpangan yang membuat derita. Aku tak dapat bercerita kepada siapapun, karena tak ada teman di kelasku yang tahu tentang sakit yang sudah sering kurasakan ini. Sekarang aku memendam segalanya sendirian.

Beruntung aku masih dapat fokus mengikuti pelajaran meski sesekali tanganku refleks menyentuh kepalaku dan mata kiriku juga refleks terpejam saat sakit mendera. Tapi tenang saja, tak ada yang menyadari kalau saat itu aku sedang sekuat tenaga mempertahankan diri dari sakit. Sampai waktunya istirahat semuanya belum berakhir, bahkan semakin terasa berkelanjutan. Semakin sakit. Waktu itu Haris menemukanku sedang kesakitan, dia pun bertanya kenapa tapi aku hanya menggeleng dan langsung pergi ke luar kelas sambil menggenggam mukena dan berjalan agak tertatih menuju masjid.

Sampai di masjid, aku duduk di teras seperti biasanya, tapi kali ini tak langsung membuka sepatuku. Aku terdiam sejenak, mencoba menstabilkan rasa sakitku dengan terus mengatur napas. Suasana masih sepi saat itu jadi aku tenang. Ya Allah, kala itu untuk bangkit berdiri saja rasanya berat. Tapi aku mampu menunaikan ibadah dhuhaku dengan lancar Alhamdulillah. Setelah selesai dan aku keluar dari masjid, kita bertemu lagi. Dan aku benar-benar tidak suka suasana itu. Ekspresimu, aku benci. Dengan masih menahan sakit kepala, aku membalas sapaanmu dengan datar, sedatar sapaanmu.

Aku duduk kembali di teras tempat sepatuku berada. Kepalaku sakitnya masih aktif. Lagi-lagi aku terdiam sejenak. Oh tidak, kala itu aku benar-benar membutuhkan sandaran untuk kepalaku beristirahat. Untunglah didekatku ada pondasi, jadi aku menyandarkan kepalaku ke sana seraya memakai sepatu. Sial, sakit itu membuatku lelah dan mengantuk. Dan benar saja, pelajaran Sosiologi aku nyaris tidur lelap, syukur tidak tertangkap mata guru. Gelisah muncul kembali saat pelajaran Matematika tiba. Ya, seperti biasanya, seluruh tenagaku kukerahkan demi agar aku bisa fokus belajar.

Hari itu, headset-ku hilang di kelas, aku jadi tak bisa mendengarkan musik di sepanjang perjalanan pulang. Yah, makin terasa saja lelahnya. Benar saja, ketika sampai di rumah, ada saudaraku ikut menonton sedikit koleksi film yang ada di laptop-ku, aku yang awalnya ikut menonton, ujungnya malah tertidur di sofa. Sudah cukup lama aku tidak tidur siang. Makanya kupastikan ini semua karena lelah yang menyambangiku sepanjang hari ini. Bahkan sampai waktu Magrib tiba, aku masih merasa kurang tidur. Setelah shalat, aku kembali terlelap. Tapi aku tak mungkin melanjutkan tidurku sampai keesokan hari karena ada tugas menanti. Syukur, segala sakit itu telah berakhir seiring aku terbangun dari tidur. Sepertinya, aku hanya kurang tidur. Tapi apakah sakit yang sejak SMP sudah ada itu juga berarti semuanya karena kurang tidur? Yah, siapa tahu.

Kamu yang di sana, jaga kesehatanmu! Sebab kalau kamu sakit, di sini pasti ada yang langsung merasakan sakitmu. Hihi. Sampai jumpa di kemudian hari, semoga pertemuan-pertemuan kita selanjutnya lebih mendewasakan dan membuat kedamaian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: