Gadis yang Kebingungan

Published October 31, 2013 by prinprincess

Ketika aku bertemu dengannya, entah itu di masjid sekolah, di kantin, di jalan, atau di manapun, sikapku masih sama sejak hubungan kami berakhir satu tahun yang lalu. Sudah demikian lamanya, namun hati ini masih belum terbiasa dengan ketidakhadiran dirinya dalam hari-hariku. Please, it’s just an ex-boyfriend. Tidak, dia bukan hanya sekedar mantan kekasihku, dia adalah seorang mantan kekasih pertamaku yang masih kucintai, yang masih sangat berharga bagiku.

Di awal masa kami baru putus, kami sangat kaku. Kami sama-sama tidak tahu bagaimana harus bersikap jika kami bertemu di jalan. Kala itu kami hanya saling menatap singkat tanpa menyapa, terkadang tersenyum kecil dengan begitu canggungnya. Seiring waktu, kami mulai mencair, tidak, dia yang mulai mencair, aku masih sama seperti dulu. Mungkin karena perlahan, perasaan yang dia miliki untukku mulai pudar, mulai hilang, mulai diganti dengan rasa pertemanan biasa yang tak ada istimewanya. Itu sebabnya dia semakin tidak canggung untuk menyapaku; karena hatinya sudah dimiliki orang lain, karena hatinya bukan lagi untukku. Kenyataan yang sangat pahit. Tapi aku menerimanya.

Sekarang-sekarang kalau kami bertemu, dia pasti menyapa dengan “Hey Nis” yang datar, so flat, senyumannya tak dimaksudkan untuk menyapaku, itu hanya senyuman sisa, bekas dari perbincangannya dengan temannya kemudian dia melihatku dan menyapaku sehingga senyumannya masih tersisa di sana. Sekali lagi, senyumannya tak pernah lagi ditujukan untukku. Aku tak pernah lagi menerima senyumannya, yang tulus. Kenyataan yang pahit lagi. Tapi aku juga menerima yang ini.

Lantas ketika dia menyapa seperti itu, terkadang aku hanya tersenyum dan menganggukan kepala dengan singkat, terlihat malu, tapi hanya untuk menutupi diri ini yang gemetaran. Oh ya, tubuh ini masih bergetar hebat ketika bertemu dengannya, jantung ini masih berdegup kencang saat bertegur sapa dengannya. Sekarang tebak, apakah aku benar-benar seorang mantan kekasih yang belum move on atau seorang gadis yang sedang jatuh cinta untuk pertama kalinya? Karena reaksiku sama saja dengan keduanya. Ini cukup konyol. Mencintai seseorang dari masa lalu yang sepertinya tak akan menciptakan kisah baru yang menarik.

Tapi kadang, aku juga membalasnya dengan, “Hey” yang sama datarnya, tanpa menyebut namanya seperti, “Hey, Gri” sebagaimana yang dia lakukan kepadaku. Hanya tiga huruf saja, kurasa tidak akan masalah. Toh dia tak pernah mengharapkan lebih dari itu. Dia kan tidak akan kesal atau tidak akan berpikir jauh jika aku membalasnya dengan singkat. Apa yang aku katakan tak akan pernah dia pedulikan lagi. Sehingga aku cuek saja membalas sapaannya karena tak akan berpengaruh sama sekali baginya. Aku kan tidak penting lagi baginya. Kutekankan ya, aku tidak penting lagi. Berbeda dengan dia kepadaku, mungkin dia berpikir menyapaku merupakan suatu keharusan, biar aku tidak sedih, biar aku tidak menangis lagi dengan cengengnya. Jadi mungkin sapaannya juga bukan dari hati, tidak tulus. Oh, apa dia sudah mulai belajar untuk menjadi tulus? Sudah? Apa sudah diinternalisasikan? Jika iya, maka ketulusan yang dia miliki jelas bukan untukku lagi, itu mudah ditebak. Aneh, ketika dia masih bersamaku, rasanya dia tak pernah berusaha belajar sesuatu, setidaknya membuat kejutan besar untuk kekasihnya sendiri, tidak pernah. Tapi kini, dia jelas bersemangat sekali untuk mempelajari hidup. Yah, sebenarnya aku tahu kenapa, karena ketika dia bersamaku, dia tak benar-benar mencintaiku, perasaannya begitu semu, jelas-jelas setengah hati. Sekarang kan dia mencintai perempuan lain dengan sepenuh hatinya, dengan sungguh-sungguh, dengan benar-benar mencintai sampai-sampai jika kehilangan dia akan bersedih. Oh ya, aku kan hanya kelinci percobaan, maksudku kekasih percobaan. Lihatlah ketika dia memutuskan hubungannya denganku, aku menangis keras sampai jatuh sakit, dia sepertinya cuek saja, dia tenang saja, dia justru merasa lega sudah putus denganku karena dia tak akan lagi terbebani olehku yang selalu saja minta kepastian dan kejelasan hubungan kami. Dia tidak merasa kehilangan diriku. Dia pasti merasa senang karena dengan kami yang putus, dia bisa mulai mencari lagi perempuan lain yang lebih cantik, putih, lucu, pintar, yah itu semua tipe wanitanya. Dan dia telah menemukan gadis itu kan? Dia pasti merasa senang.

Oh apakah aku terlalu berburuk sangka? Sepertinya begitu. Tapi tenanglah, ini kulakukan untuk menyadarkanku saja bahwa dia benar-benar telah pergi, untuk meyakinkanku dengan kenyataan yang ada, untuk menyiksa diriku sendiri agar aku berhenti mencintainya. Kalau yang kukatakan itu sama persis dengan kenyataanmu, itu kebetulan, kan?

Mungkin sesekali ketika kami bertemu, kami hanya saling menatap singkat, tidak menyapa. Kenapa? Karena aku memalingkan wajah lebih dulu. Terkadang aku merasa lebih baik tidak bertegur sapa daripada aku disapa dengan sapaan datar yang perempuan manapun tak pernah menginginkannya. Lihatlah ketika dia menyapa teman-temanku yang lain, begitu penuh keceriaan. Kalau begini kan malah semakin membuat luka di hatiku. Yah, mau bagaimana lagi, sampai kapanpun mungkin dia tak akan pernah menyapaku seceria itu, karena ada sesuatu di antara kami yang menjadikan sikapnya berbeda padaku. Sama halnya denganku kan? Aku juga lebih sedikit ceria ketika menyapa teman laki-lakiku yang lain ketimbang menyapanya. Hanya mungkin beda kasus.

Aku tak tahu apa yang harus kulakukan selanjutnya. Mau berakting santai seperti tak pernah terjadi apa-apa pun tidak bisa, aku pernah mencobanya dan itu memalukan sekali, ide yang sangat buruk. Hey, aku memang ikut kelas teater di sekolah, tetapi kemampuan aktingku sebenarnya tidak bagus. Aku tidak pandai menutupi, aku tidak pandai berbohong, terutama membohongi diriku sendiri. Karena itulah, sikap diam yang sudah mendarah daging dalam diriku kujadikan tameng untuk menutupi segalanya ketimbang harus berpura-pura. Ya, ternyata memang beruntung aku dilahirkan menjadi seorang pendiam. Itu patut disyukuri.

Tapi jika aku membiarkan kami terus tidak bertegur sapa, maka aku menyia-nyiakan kesempatan itu. Kesempatan untuk saling menyapa untuk sekedar menciptakan kenangan terakhir dengannya. Karena sebentar lagi kelulusan.

Tapi apakah harus seperti ini sampai waktunya kelulusan? Kelulusan, berarti aku benar-benar akan berpisah dengannya dalam waktu yang lama, tidak bertemu dan tidak bertegur sapa lagi. Tidak akan mendengar suaranya, tidak akan melihat tawanya, tidak akan tahu cerita tentangnya. Kebahagiaanku akan hilang saat itu juga. Di satu sisi sebenarnya ini membantuku untuk merelakannya, karena dengan tidak bertemu dalam waktu yang lama, perasaanku akan lebih cepat memudar. Karena sering bertemulah aku jadi sulit merelakannya. Tapi di sisi lain, seperti yang kukatakan tadi, salah satu sumber kebahagiaanku menghilang. Aku masih takut kehilangan dirinya. Karena kadang hanya dengan melihatnya, aku bisa kembali tersenyum dan bersemangat. Yah, aku kembalikan segalanya pada Allah SWT. Biarkan Dia yang mengatur cerita kami, Dia jauh lebih tahu apa yang terbaik untukku dan untuknya. Jika memang dia bukan yang dipilihkan untukku, maka pasti aku akan bertemu dengan orang lain yang lebih baik.

Ya, biarkan segalanya mengalir di jalurnya sendiri.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: