Benarkah Cinta Mengenal Kata Lelah

Published October 31, 2013 by prinprincess

Benarkah cinta mengenal kata lelah? Aku masih tidak tahu. Tapi mungkin, itu hanya terjadi pada rasa cinta yang mulai meredup, atau pada cinta yang sudah tidak sanggup diabaikan. Sebagai dewasa muda yang masih segar dan masih baru di dunia yang sebenarnya, pantaskah untuk menyerah pada cinta? Ketika hati masih belum memahami apa arti sesungguhnya dari cinta, bukankah ini masih terlalu dini?

Kata orang, perjuangkan cintamu sampai titik darah penghabisan. Tapi bagaimana jika orang yang kita cintai sedang memperjuangkan cintanya untuk orang lain dan dia sama tidak akan pernah menyerahnya seperti kita? Haruskah aku melakukan hal yang sama?

Aku tidak tahu bagaimana caranya memperjuangkan cinta yang hampir berumur dua tahun ini. Sebab cinta ini telah ditinggalkan, cinta ini telah banyak diabaikan dan dilukai. Cinta ini telah melalui banyak kepahitan nyata dan kebahagiaan semu. Menyedihkan. Delapan bulan yang penuh sandiwara, penuh kepalsuan. Aku bukan orang yang santai terhadap sesuatu yang merusak hatiku, jadi aku tidak bisa seperti dia, aku tidak bisa membawa segalanya semudah yang dia lakukan. Aku tidak bisa melupakan semudah dia melupakan.

Aku juga bukan orang yang mudah melupakan kesalahan yang telah memporakporandakan ketenangan serta kebahagiaanku. Mungkin aku pendendam. Pendendam yang selalu ingin melihat dia-yang-pernah-melukaiku bahagia. Pendendam yang masih mencintai penghancur hatinya. Benarkah jenis cinta yang seperti ini? Aku juga tidak tahu. Aku hanya seperti ini. Aku hanya seorang gadis yang tersenyum ketika melihat orang yang dia cintai tersenyum. Aku hanya seorang gadis yang berdoa ketika dia jatuh sakit. Aku hanya seseorang yang selalu menulis tentangnya. Aku seorang gadis yang dulu sempat ragu untuk memilihnya, tapi sekarang sangat yakin untuk menginginkannya. Ternyata aku hanya cukup dijadikan pelajaran saja baginya, bukan untuk dibawa ke masa depannya. Aku hanya kelinci percobaan. Hanya aku yang menganggap segalanya serius dan nyata. Hanya aku yang menginginkan segalanya bertahan dan berlanjut. Karena dia tidak pernah bersungguh-sungguh. Karena dia tak pernah benar-benar mencintaiku.

Dia hanya terlalu baik untuk pernah membuatku bahagia. Dia terlalu baik untuk tidak meninggalkanku di bulan-bulan pertama kami bersama. Dia hanya tidak tega melihatku menangis. Itu sebabnya dia tinggal dua bulan lebih lama meskipun dia sudah ingin pergi dariku. Dia mungkin takut akan merasa bersalah padaku karena dia tidak tahu bagaimana cara membuat perasaanku kembali membaik. Dia tak pernah tahu caranya. Dia tak pernah tahu dan tak pernah mengerti apapun tentangku, tentang cerita kami, tentang apa yang terjadi. Dia tak pernah mau mempedulikanku dan segala hal tentang perasaanku padanya.

Bolehkah aku merasa lelah? Kusebut ini rasa cinta, tapi apakah cinta dapat kelelahan? Kubilang aku kelelahan, tapi mengapa aku selalu memperhatikannya dan seolah tak akan pernah berhenti? Mengapa aku terus mempertahankannya padahal dia telah membuangku jauh-jauh dari kehidupannya?

Mungkin aku salah. Salah dalam cara mencintainya. Atau mungkin, aku mencintai orang yang salah. Aku hanya terlalu bodoh untuk terus mempertahankan segalanya. Aku hanya tidak mau mengakhiri harapan-harapan yang dulu pernah kumiliki ketika masih bersamanya. Aku tidak mau menghentikan mimpi-mimpi yang dulu hadir untuk kuwujudkan bersamanya.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: