Sudah Lelahkah Aku?

Published October 12, 2013 by prinprincess

Sudah Lelahkah Aku?

Tuhan, aku harus menyerah di sini. Di rintik hujan terakhir hari ini, aku berhenti. Di bawah sinar matahari hari ini, langkahku mulai tertatih. Setelah tiga ratus tiga puluh tujuh hari aku tertahan terbelenggu, aku akhirnya terjerembap ke dasar jurang. Aku lelah, mungkin aku harus berhenti.

Tuhan, aku minta hujan, hujan untuk menemaniku menangis. Melepas air mata terakhir untuknya, membuang seluruh perasaan dalam butiran air mata. Diri ini tak sanggup lagi berpegangan pada cinta. Aku tak sanggup lagi melihat dia yang kucintai mencintai perempuan lain. Mungkin selama ini aku kuat, aku terlihat tahan banting, senyumku seakan kokoh tak terpatahkan, namun ternyata kini aku tumbang, topengku hancur sudah. Aku kembali bodoh. Aku kembali tak tahu cara menahan tangis. Aku bercanda tawa dengan teman-teman namun yang kurasakan hanyalah sakit yang mendorong air mataku untuk mengalir. Di sela-sela tawaku, aku menangis di depan teman-teman. Mereka bertanya, namun aku hanya bisa tersenyum, kukatakan pada mereka bahwa aku tidak apa-apa, sambil terus menangis. Terbukti sudah aku memang tidak pandai berakting. Aku tidak pandai berpura-pura, aku tidak pandai berbohong. Itulah sebabnya orang-orang dengan mudah menebak bahwa aku masih mencintaimu.

Tapi itu kemarin.

Kemarin aku bertekad bahwa aku tidak akan lagi mempedulikanmu, tidak akan menangis lagi untukmu. Itu kemarin. Hanya kemarin. Hari ini, di atas sehelai sajadah, di bawah atap masjid yang disinari waktu dhuha, aku menangis lagi. Tepat seusai aku menunaikan shalat dhuha, aku mendengar suaramu. Entah karena suasananya sepi atau entah pendengaranku yang terlalu peka terhadap suaramu, aku selalu mendengarmu. Tak mengerti apa penyebabnya, aku menangis. Di luar sana kamu tertawa, di dalam sini aku menangis. Mungkin, aku hanya tidak kuat mendengar suaramu, suara seorang pria yang kucintai, suara yang dulu pernah menemaniku sebelum tidur, suara yang kini bukan lagi milikku, bukan untukku.

Aku tahu, kamu masih memperlakukan aku berbeda dari teman-temanmu yang lain. Tapi sayangnya, bukan berbeda karena kamu mencintaiku, tetapi justru karena kamu tidak mencintaiku, juga karena aku pernah melukaimu. Ketika kamu menyapa yang lain, kamu begitu ceria, begitu penuh senyuman. Tapi ketika kamu menyapaku, hanya sedikit kata-kata yang kamu punya untukku, hanya sedikit senyuman yang kamu bagi padaku, hanya sedikit waktu yang kamu biarkan berlalu hanya untuk menyapaku. Kamu menjadi pelit hati padaku. Tapi aku pun sama halnya denganmu. Aku seringkali menjawab sapaanmu hanya dengan anggukan dan senyum kecil yang irit. Tapi aku berbeda denganmu, aku begitu karena aku masih belum ahli mengendalikan detak jantungku ketika aku bertemu denganmu. Dua puluh bulan dan jantungku masih sulit diatur saat aku berada dekat denganmu. Kalaupun aku bisa mengendalikannya, aku pasti bisa memperlakukanmu seperti aku kepada teman-temanku yang lain. Aku pasti bisa berakting, pura-pura tidak mencintaimu, aku pasti bisa melakukannya. Tapi sama halnya dengan hatiku, tubuhku pun tidak bisa berbohong.

Lantas bagaimana aku harus menghadapi semua ini? Ketika aku sudah tak punya kesempatan untuk membawamu kembali pulang padaku, masih pantaskah cinta ini dipertahankan? Ketika kamu sudah mencintai perempuan lain, masih dapatkah aku menginginkanmu? Aku lelah sejuta lelah! Tapi hati ini masih ingin memelukmu. Dan aku masih punya sejuta tapi lagi. Aku hanya terus berpasrah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: