Beberapa Hal yang Mengganggu Pikiran

Published May 4, 2013 by prinprincess

Aku tahu, sampai detik aku mengetik tulisan ini, kamu sudah tidak lagi peduli tentang aku. Bahkan kamu tidak lagi membaca tulisan-tulisan aku di blog-ku ini. Bahkan kamu bukan lagi kamu yang suka membuka akun twitter-ku. Aku tahu, kamu benar-benar berhenti mencariku. Kamu berhenti melihatku. Kamu berhenti melihatku. Kamu berhenti melihatku. Aku tahu. Kalau aku salah, katakan saja.

Aku sering tertawa sendirian sekarang. Aku tertawa setiap menyadari bahwa aku benar-benar mencintai satu arah tanpa kamu yang membalas. Aku tertawa setiap aku menyadari bahwa hanya aku yang diam-diam peduli padamu tanpa kamu yang peduli padaku. Aku tertawa setiap menyadari bahwa kamu tidak memiliki rasa apapun lagi terhadapku. Aku tertawa setiap menyadari kamu tidak pernah memikirkanku lagi. Aku sedih. Aku tertawa setiap aku sedih. Aku jarang menangis lagi, tapi aku tertawa, setiap senang maupun sedih. Bukan hal yang bagus menurutku, karena seharusnya orang sedih itu menangis. Bukan tertawa.

Aku melihat ke sekeliling, dan aku dengan bodohnya memaki orang-orang yang berpacaran. Kadang juga menatap iri pada mereka. Terlintas di pikiranku, enak juga ya, kalau ada orang yang memperhatikanku dengan tulus, kalau ada yang berjuang untukku dengan sepenuh hati. Dan seketika aku merindukanmu. Selalu merindukanmu. Tapi kamu tidak pernah mau tahu. Tidak pernah mau peduli. Kalau aku salah  tentang hal ini, katakan langsung padaku.

Kulihat kamu banyak berubah, atau memang kamu seperti ini dan aku yang tidak menyadarinya? Ya, mungkin begitu. Karena kamu hanya memaksakan diri ketika bersamaku, kamu hanya menyesuaikan diri denganku yang dramatis. Kata-kata manismu hanya terpengaruh dariku. Sebenarnya itu bukan gayamu kan? Kamu mengatakannya sendiri. Aku bodoh juga, aku yang dulu, pacarmu, yang seharusnya tahu banyak tentangmu yang sebenarnya, malah tidak tahu apa-apa. Aku sedih juga.

Oh ya, menurutmu, apakah luar biasa jika aku bisa mengetahui sesuatu tentangmu hanya dengan feeling-ku? Atau yang orang-orang sebut ikatan batin. Atau kalau kata Ibu Selfa, namanya keterikatan hati. Apa menurutmu itu suatu hal yang luar biasa? Kata Bu Selfa, aku memiliki keterikatan hati itu, karena aku punya perasaan yang begitu mendalam terhadapmu. Aku yakin begitu intinya.

Sebenarnya keterikatan hati itu sama sekali tidak berguna. Karena aku baru bisa memastikan kebenaran pikiranku dengan apa yang terjadi denganmu. Sebelum bisa dipastikan, hal itu sama sekali tidak ada apa-apanya. Sedih juga, hanya aku yang bisa melakukan hal ini. Hanya aku yang memiliki perasaan yang mendalam terhadapmu. Dan hanya aku, teman sekolahmu yang bisa tahu setidaknya sedikit tentangmu tanpa diberitahu orang lain lebih dulu. Aku bisa menebakmu dengan benar kalau kamu mau tahu.

Dan kalau kamu ingat lagi, kamu pernah bilang kalau kamu pacaran denganku tanpa sepenuh hati. Bahasa kamu sih, ngga pake hati. Tapi bahasaku, kamu tidak memakai sepenuh hatimu. Hanya sebagian, kan? Sehingga kamu baik-baik saja ketika kamu meninggalkanku dengan semua kenangan manis yang semu. Aku tidak tahu di mana letak nyatanya. Semuanya menjadi semu, sangat-sangat abstrak, ketika kamu mengatakan bahwa kamu ‘ngga pake hati’. Hanya sebuah drama remaja yang romantis.

Kamu jahat juga sih, membuat perasaanku kepadamu terus membesar kepadamu setiap harinya, tapi kamu sama sekali tidak bertambah perasaannya padaku bahkan kamu membiarkan perasaanmu terus berkurang. Kamu hanya bertahan, membiarkanku terlena dengan aktingmu. Karena kamu tidak berjuang keras dalam hubungan kita dulu, aku anggap kamu tidak mencintaiku. Kamu hanya menyukaiku. Sebatas itu, tidak lebih. Dan perasaan suka yang tidak (bisa) bertambah menjadi cinta, tidak layak untuk masuk dalam lingkaran pacar-berpacaran. Itulah kamu. Kalau aku salah dalam hal ini, katakan langsung padaku.

Tapi sejahat apapun kamu, tetap saja, aku masih tidak bisa berhenti mencintai. Kamu. Masih sulit. Aku masih tidak bisa cuek, aku masih tidak bisa tidak peduli padamu, aku masih tidak bisa berhenti. Justru, kamu terus membuat perasaanku semakin besar. Ah, dasar, aku terus mencintaimu.

Kadang aku berpikir, hari ini aku mencintaimu, tapi beberapa tahun lagi, siapakah yang kucintai? Apakah masih kamu? Aku tidak tahu.

Tapi kupikir, Allah belum memberikanku waktu untuk mengurusi hal-hal menyangkut percintaan seperti itu. Bisa saja kalau aku masih pacaran denganmu, justru prestasiku malah turun karena galau terus. Tapi sekarang aku tanpamu, meskipun galau berat juga, tapi aku tetap sanggup mempertahankan prestasiku bahkan menjadi lebih baik. Terima kasih sudah memutuskanku, by the way.

Serius! Sejak kamu memutuskanku, (emm membuangku mungkin lebih tepat) sekarang aku merasa lebih baik dari diriku yang sebelumnya. Kalau disuruh memilih, antara masih pacaran denganmu dengan aku yang dulu atau putus darimu dengan diriku yang sekarang, aku memilih putus darimu plus diriku yang sekarang. Yah, meskipun aku harus terseok-seok melangkah mengenangmu, merindukanmu, mencintaimu. Ya, tidak apa-apa, mencintaimu, itu urusan lain. Itu tidak lebih penting daripada kebaikan diriku sendiri.

Dan mungkin kamupun akan berterima kasih kepadaku ketika aku pasrah saja diputuskan olehmu. Ketika aku diam menangis tanpa membantah kata-kata pelepasanmu. Kamu mungkin lega, karena kamu bisa lepas dari keterikatan kita yang selama ini mengekang kebebasanmu. Kamu lega karena kamu bisa lepas dari tuntutan-tuntutan sebagai pacar. Kamu senang karena tidak akan ada lagi pacarmu yang menangis karenamu. Kamu lega karena bebanmu hilang seiring  kamu memutuskanku. Iya kan? Tapi toh sebenarnya sama saja, katanya kamu memutuskanku karena tidak mau aku menangis terus dan galau terus. Tapi setelah kamu memutuskanku pun sama saja, aku tetap menangis dan galau. Jadi sepertinya kita putus atau tidak, aku akan tetap saja begitu. Padahal tidak. Aku tipe perempuan yang berusaha kalau kamu mau mengerti.

“Makasih udah baik banget sama aku,” katamu. Iya, aku ingat kalimatmu di hari kita putus itu. Kalimat yang sebenarnya sama sekali TIDAK aku butuhkan. Kata maaf dan terimakasih yang biasanya sangat aku hargai dan sangat aku sukai dalam bersosialisasi, kali ini aku merasa tak perlu mengapresiasinya. Karena tak ada gunanya, paling hanya untuk etika, sopan santun. Omong kosong. Apa gunanya? Kamu berterima kasih untuk apa? Itu hanya kesopananmu saja kok. Dan untuk hal ini aku merasa tidak perlu mendengarnya darimu. Lagipula aku baik-baik saja kalau kamu tidak berterima kasih, aku tidak mengharapkan balasan apapun atas apa yang telah aku lakukan padamu meskipun itu hanya ucapan terima kasih. Lalu jika kamu meminta maaf seribu kali padaku, lalu aku tidak menjawabnya, bukan  berarti aku tidak memaafkanmu. Tapi karena aku sudah lebih dahulu memaafkanmu sebelum kamu memintanya. Lidahku hanya terlalu kelu untuk berbicara padamu.

Kalimat-kalimat santun seperti itu tidak kubutuhkan saat itu, karena yang aku ingin adalah cintamu. Oh, sial, ini lebay, kawan. Aku jijik juga dengan diriku sendiri. Tapi apakah ada kata lain yang bisa menjelaskan perasaanku yang demikian dan yang tidak lebay tentunya? Lapor padaku.

Haduh, kalau melihat lagi tulisanku di atas, sepertinya aku kasar sekali. Tapi ketahuilah, ketika aku menulisnya, aku menangis. Tanpa air mata. Air mataku sudah kadaluarsa sepertinya, dan habis karena banyak dipakai untuk menangisi kepergianmu dulu. Betapa bodohnya aku.

Dan semua tulisan di halaman ini, benar-benar dari hati. Aku tidak membentakmu di sini. Aku tidak marah padamu. Aku tidak membencimu. Aku justru takut, takut kalau kamu benar-benar tidak peduli lagi padaku. Aku benar-benar takut.

Tapi beruntung, semua ini tidak lagi penting. Karena yang penting, yang harus kuperjuangkan adalah meraih cinta dari Allah SWT. Dan aku mencari orang sepertimu, yang beriman kepada Allah. Yang mencintai Allah, sepertimu. Ada kutipan salah satu akun twitter:

“Any guy can say “I love you”, but only a man in love with Allah can truly love you.”

Di mana aku bisa menemukan laki-laki yang mencintai Allah itu? Yang mencintai ibunya dengan sepenuh hati, yang berbakti pada keluarganya? Sejauh ini, yang kulihat, yang kutahu, hanya kamu. Hanya kamu laki-laki itu. Yang aku cari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: