Your Hands

Published April 29, 2013 by prinprincess

Tanganmu, sekilas biasa saja
Sama dengan tangan-tangan yang lain
Tapi tanganmu punya cerita
Cerita tentang kita
Berdua saja

Tanganmu, yang kanan maupun kiri adalah tangan asing pertama yang menyentuh, yang memegang buku tulis kecilku
Berisikan beratus kata puitis, buku puisi kecilku;
Berikut matamu adalah yang pertama kali membacanya
Hatiku mengizinkanmu, tidak pada orang asing lainnya
Ssst, rahasia, kata-kata yang kutulis itu rahasia. Aku telah berbagi rahasia denganmu, kata-kata itu, milikmu. Jangan kau berbagi dengan yang lain

Tambah lagi, catatan hati kecil dalam ponselku, kalau kamu masih ingat di mana aku sering menulis kecil. Dalam ponselku. Hanya kamu yang tahu karena hanya tanganmu yang pernah membukanya. Kata-kata di dalamnya rahasia juga.

Lain waktu, tanganmu bergerak memukau, menciptakan banyak objek indah
Aku bangga karenaku seorang perempuan yang menikmati indahnya.
Puisimu. Entah berapa ratus kali aku membaca kata-katamu. Sederhana. Istimewa. Aku memiliki kata-kata itu, bahagia aku. Aku pemilik naskah puisi orisinilmu. Dengan bubuhan tanda tanganmu, dengan tulisan tanganmu yang khas. Indah. Cara tanganmu menari di atas kertas sungguh indah.

Belakangan kamu sibuk memukul. Menciptakan karya lagi, dalam bentuk dengaran yang sudah terekam di dalamku. Kamu bermain jimbe. Betapa fasih kamu bermain. Seolah tangan itu bergerak sendiri, ringan dan bebas ia beradu dengan dasar. Bunyi-bunyiannya memukauku. Tak sadar ku terpaku di tempatku. Menikmati gema yang menggelegar bergejolak. Tanganmu memang ditakdirkan demikian.

Terima kasih pada tanganmu, telah mampu menyampaikan isi pikiranmu lewat pesan singkat sebuah ponsel. Tiga ribu pesan elektronik singkat yang kamu telah ketik kepadaku kini masih menemaniku. Mengembalikanku ke bulan-bulan kebersamaan kita. Bulan-bulan bertabur sayang, ditemani penghujan dan awal kekeringan. Kita berjalan berdua di tengah tahun.

Ingat ketika jalanan sepanjang Institut Teknologi Bandung kita lewati bersama? Tanganmu. Tanganmu, pada kali pertamanya menggenggam tangan kiriku. Tidak, tanganku tidak terkejut. Dia nyaman pada sentuhan pertamanya. Tapi hatiku kalang kabut. Jantungku layaknya popcorn. Pop pop boom! Begitu terus. Punya apa tanganmu sampai aku hampir membeku di tempat? Aku baru mengerti rupanya separah itu pengaruh sentuhan tangan dari orang yang dicintai dan mencintai.

Sepanjang cerita kita, tanganmu banyak berjasa. Tanganmu menggenggam tanganku, hangat berselir darinya, membuatku tidak bergerak canggung. Aku tenang dengannya. Ketika jemari kita saling berpaut, aku merasa tidak sendirian. Tak merasa sepi. Aku terjaga olehnya, seakan bahaya seketika menjauh saat tanganmu menggamitku. Terlebih saat tanganmu melingkar di sepanjang garis bahuku, saat aku bersandar pada bahumu. Merupakan tempat ternyaman yang ada dalam diri manusia, kamu.

Kesenanganku, menggandengmu saat berjalan. Sama-sama tersenyum kecil ketika itu apabila kamu masih mengingat. Setidaknya kamu ingat walau tidak mengingat. Kenangan kecil yang besar membahagiakan.

Tanganmu, yang menemaniku saat berjalan berdua. Yang menjagaku. Yang menenangkanku ketika waktu-waktu istirahat dalam minggu ujian kenaikan kelas. Ada insiden kecil kala itu kalau kamu ingat. Sekarang aku tertawa membayangkannya. Merindukan momen tersebut, mencoba merasakan kembali tanganmu.

Juga tanganmu, sewaktu-waktu di pagi hari sepi, mengusir dingin udaranya. Hanya kamu, hanya tanganmu yang mampu, yang sanggup melakukannya. Dan di antara laki-laki itu, hanya tanganmu yang mampu mengendarai motor dengan baik, dengan aman. Apakah mungkin ini sebabnya aku hanya merasa nyaman bermotor saat kamu yang membawaku? Mungkin saja. Karena aku tidak merasa senyaman itu ketika bermotor dengan teman-teman laki-lakiku yang lain. Hanya kamu laki-laki itu. Hanya kamu dan tanganmu.

Dan meski banyak laki-laki yang sejak kecil menyentuh wajahku, pipiku, hanya kamu dan ayahku, laki-laki yang menyentuh pipiku dengan lembut. Yang lain mungkin sembarang menyentuh saja, mencubit pipiku hingga makin bulat. Tak demikian halnya denganmu.

Coklat termanis yang membuatku berseri hanya datang dari tanganmu. Tidak dari yang lain. Aku merindukan chunky bar-mu. Di mana aku bisa mendapatkan lagi coklat itu? Iya, di toko memang ada banyak. Tapi apakah ada yang rasanya sama seperti coklat yang kamu berikan? Tidak. Itu beda kalau kamu mau mengerti.

Kamu pernah berkata, dengan merangkulku, kamu merasa jadi laki-laki yang berguna. Benar adanya kok. Tanganmu memang sungguh berjasa apalagi dengan merangkulku.

Tapi semuanya sudah lewat. Sesungguh apapun aku merindukan tanganmu, sebesar apapun aku merindukannya, tanganmu tak akan pernah lagi meraihku, tanganmu tak akan lagi menyambutku seperti dulu. Sekarang ini tak ada lagi tanganmu yang menemaniku, yang menguatkanku ketika sedihku datang. Yang menghangatkanku ketika udara penghujan menghujamku. Tak bisa lagi kumiliki sentuhan tanganmu.

Seiring kepergianmu, aku berusaha lepas dari rasa-rasa nyaman yang tersisa dari tanganmu. Berusaha untuk tidak lagi menginginkan genggamanmu. Mencari cara lain untuk menghangatkanku ketika hujan karena sehelai jaket tak sanggup meraih hatiku yang membeku.

Kelak tanganmu akan dimiliki oleh perempuan lain, yang pasti menjadi pasangan kedua tanganmu yang pas. Perempuan itu pastilah sangat sangat beruntung memiliki kedua tanganmu yang kusukai. Kecuali Tuhan mungkin berkehendak lain.

Yang sekali waktu akan mengejutkan kita semua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: