Ketika Kota Bali Menemani Hari Liburnya

Published March 18, 2013 by prinprincess

Aku sama sekali tak berpikir untuk pergi mengikuti tour ke Bali yang diadakan sekolah. Entah kenapa. Meskipun sebenarnya aku adalah orang yang sama sekali tidak mampu melewati momen-momen emas kebersamaan begitu saja. Bahkan meskipun dia ikut tur itu, aku tetap tidak tergugah.

Aku kira aku akan baik-baik saja. Tapi, ya, aku baik-baik saja dengan tidak pergi ke Bali. Aku tidak menyesal tidak dapat melihat panorama alam Bali yang indah seperti yang diperlihatkan di televisi. Itu urusan mudah. Kalau memang Allah SWT menghendakiku untuk berkesempatan mengunjungi Bali, aku pasti akan ke Bali suatu hari nanti, Allah akan memberiku kesempatan itu, bahkan mungkin dalam keadaan yang sangat membahagiakan. Itu bukan menjadi persoalan bagiku.

Hal yang membuatku tidak baik-baik saja adalah ketika kenyataan menyadarkanku bahwa dia sedang pergi jauh untuk beberapa hari ke depan. Bukan! Bukan karena aku tidak senang melihat dia bahagia berlibur di Bali. Itu konyol, kawan. Tapi bahwa aku tidak dapat melihatnya. Itu kenyataan yang mengganggu, sangat meresahkan.

Kupikir aku sudah terbiasa tidak melihatnya. Kupikir aku sudah terbiasa tidak menemukan tawanya. Kupikir aku sudah sedikit demi sedikit bisa lepas dari tali kait-nya. Ternyata tidak. Belum.

Ketika aku dan dia masih bernama ‘kita’, aku merasakan rasa rindu yang luar biasa jika tidak bertemu dengannya barang beberapa jam saja. Perasaanku masih begitu kuat dan tebal saat itu. Melihat keadaanku yang sekarang, di mana perasaanku (meskipun masih kuat) yang sudah bisa merelakan dia hidup dalam dunianya tanpa aku, harusnya aku tidak lagi merasakan rindu yang gila itu. Harusnya aku biasa sajaBiasa. Tapi aku justru merasa ada sebagian dari hati (entah jiwa) yang dia bawa bersamanya ke Bali. Aku merasa dia merenggut sebagian kecil (entah besar) hatiku hingga aku merasa setengah di sini. Bukan, bukan dia yang membawanya, tapi hatiku yang ikut bersamanya, yang masuk ke celah ruang hatinya dan menetap di sana. Ini parah. Aku tidak tenang di sini. Oh hello! Aku harus mengikuti olimpiade Geografi.

Sebenarnya aku termasuk orang yang memiliki titik fokus yang dapat dibagi-bagi. Kusebut itu titik fokus dasar. Di mana titik fokus dasar itu dapat terbagi menjadi titik-titik fokus lainnya sehingga aku dapat berkonsentrasi di setiap aspek kehidupanku dalam waktu yang bersamaan. Jadi sebenarnya, aku masih bisa berkonsentrasi pada olimpiade meskipun kejiwaan-ku terganggu oleh ketidakhadiran dia dalam hari-hariku. Tapi hatiku hanya satu. Satu. Hatiku tidak seperti fokusku yang bisa terbagi. Sial. Kau mengerti maksudku?

Sejauh ini untungnya jalurku di olimpiade baik-baik saja.

Kesimpulannya aku merindukannya! Sangat! Dan ini baru sekali lagi kurasakan setelah sekian lama aku tidak merasakannya. Oleh karenanya aku merasa aneh. Hanya saja perbedaannya, sekarang aku tidak dapat mencurahkan perasaan yang satu ini langsung kepada dia. Siapa aku untuknya? Oh gila!

Aku menulis halaman ini pun karena hanyalah di sini tempatku dapat mencurahkan seluruh perasaanku yang terpendam. Aku tidak dapat bercerita ke sembarang orang. Maka dari itu sekarang tidak banyak teman atau sahabatku yang mengerti persis seperti apa  keadaanku.

Sayangnya aku tidak punya kamera pengintai untuk mengawasinya. Kalaupun punya, aku memang tidak akan menggunakannya. Aku akan membiarkan dia bahagia dengan bebas. Satu yang aku dapat lakukan yaitu berdoa. Aku berdoa dan terus berdoa untuk keselamatan dan kelancaran perjalannya selama tour ke Bali. Akupun berdoa agar dia bisa berbahagia dan membuat rileks dirinya di Bali sana. Kupikir setelah apa yang terjadi akhir-akhir ini membuat dia berada di bawah tekanan yang cukup berat. Aku harap tur ini dapat membuat perasaannya lebih tenang dan enjoy. Dan aku sangat-sangat ingin bebannya menjadi ringan. Aku ingin dia baik-baik saja.

Tuhan, perasaan macam apa ini ?
Cinta ?
Benarkah ini bernama cinta ?
Aku tidak yakin.
Rasa yang bernama cinta itu sudah lama pudar. Benarkah ?
Dan rasa rindu yang kurasakan pun harusnya tidak akan pernah muncul lagi.
Oh sial, air mataku memberontak. Tidak boleh, aku sedang di restoran cepat saji. Aku tidak mau dianggap yang aneh-aneh orang karyawan dan pengunjung lain. Itu konyol.

Lagu yang sedang kudengarkan pun mengontrol air mataku untuk terurai. Lagu original soundtrack film Habibie & Ainun yang dinyanyikan Bunga Citra Lestari, Cinta Sejati. Sebelumnya ada satu lagu lagi yang mampu membuatku menangis, lagu original soundtrack film Perahu Kertas yang dinyanyikan Elyzia Mulachela, Cinta yang Tak Mungkin.

Kenapa lagu soundtrack film Indonesia semakin maju saja? Sungguh berkualitas. Ya, sampai membuat orang (aku) menangis. Sial.

Yang miris adalah bahwa segala yang kurasakan saat ini tak akan mendapat respon apapun darinya. Ini bencana bagiku dan hanya sebatas fenomena alam sederhana yang sudah biasa baginya, semacam angin, mungkin. Tapi akupun tidak memaksakan respon itu darinya. Aku sudah rela melepas dia yang rela melepasku. Aku tidak apa-apa di sini sebagai seorang yang sendirian merasa.

Aku hanya menginginkan dia bahagia. Dimanapun. Kapanpun. Itu saja. Meskipun sesuatu yang buruk menimpanya, aku ingin semua itu berakhir dengan dia yang bahagia.
Karena kebahagiaannya adalah sumber kebahagiaanku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: