Sebuah Kisah Gadis SMA Berusia 15 Tahun

Published February 17, 2013 by prinprincess

Subhanallah walhamdulillah.
Kiranya hanya itu yang bisa saya ucapkan saat bertatapan dengan kenyataan hidup saya sekarang. Sungguh, entah seberuntung apakah saya telah mengalami segelintir peristiwa beberapa bulan ke belakang ini. Marilah melihat kembali cerita lama, cerita yang sebenarnya selalu masih berkelanjutan karena saya masih hidup.

Ini adalah sebuah kisah luar biasa dari seorang gadis yang sederhana.

Semua ini berawal dari sebuah keajaiban. Saya memiliki apa yang orang-orang sebut sebagai ‘kekasih’ atau istilah gaulnya adalah ‘pacar’. Meskipun saya sebelumnya sama sekali belum pernah berpacaran, tapi sedikitnya saya tahu bagaimanakah orang berpacaran. Adalah proses yang cukup panjang sampai saya memiliki seorang pacar. Yang pasti sejak itu, hari-hari saya menjadi lebih indah dan membahagiakan.

Tetapi saya lupa satu hal. Satu hal yang sangat fatal. Saya setiap hari mengucap syukur kepada Allah karena Allah telah memberikan seorang pria yang mampu membahagiakan saya lebih dari pria manapun, kecuali Ayah saya tentunya. Tapi saya melupakan Allah dalam ‘bagaimana’ saya berpacaran. Sehingga kebahagiaan yang saya rasakan hanyalah menutup mata saya. Sungguh sebuah kebahagiaan yang semu. Tidak heran kebahagiaan itu berakhir dengan cepat.

Tapi Alhamdulillah, pacar saya adalah seorang yang tahu agama, meskipun kiranya dia juga melupakan sesuatu yang fatal seperti saya. Dia adalah orang terakhir yang mampu mensugesti saya untuk memakai jilbab, padahal kalimat dorongannya tergolong sederhana, biasa saja, sangat biasa. Akhirnya niat lama saya untuk memakai jilbab terlaksana juga. Alhamdulillah. Dia salah satu keturunan nabi Adam yang selalu berusaha memelihara shalat lima waktu, melaksanakan sunah rasul, dan berbakti kepada kedua orang tua. Subhanallah. Memilikinya sangat luar biasa.

Jujur, pada waktu itu saya masih belum terjaga shalat fardhunya, saya masih belum cukup erat dengan agama. Awalnya, pacar saya selalu mengingatkan saya bila sudah waktunya shalat. Saya pun selalu menurutinya. Tapi saya sadar kok, bahkan sejak pertama kali saya diingatkan shalat olehnya, saya sadar bahwa saya tidak boleh melakukan sesuatu selain Lillahi ta’ala. Maka saya berusaha untuk meniatkan shalat hanya karena Allah SWT. Bisa karena terbiasa. Itu sangat benar. Pacar saya selalu mengingatkan shalat, lebih baik tepat waktu, dan saya menjadi terbiasa akan itu dan saya berharap semoga niat saya selama itu benar-benar karena Allah. Saya beradaptasi cukup lama sampai akhirnya saya tidak perlu diingatkan lagi untuk shalat. Alhamdulillah.

Pacar saya itu memberikan banyak sekali pelajaran bagi saya, meskipun kiranya dia tidak pernah memaksudkan untuk seperti itu. Seperti halnya cinta lingkungan, bagaimana me-manage waktu untuk belajar dan mengerjakan tugas, berbakti pada orang tua, keberanian dalam menuntut ilmu, dan masih banyak hal lainnya yang saya pelajari dari dia.

Sampai suatu saat, sebuah kejadian memukul jiwa saya. Pacar saya tiba-tiba tutup diri, tutup mulut. Dia berkata bahwa dia sedang tak ingin bicara pada saya. Saya pikir dia mungkin bosan, saya sadari itu, karena saya pun merasa saya belum memberikan apa itu kenyamanan baginya. Bagai selembar daun kering yang dibakar. Tiap detiknya makin rapuh sampai akhirnya benar-benar hancur. Itu hati saya, seperti itu gambarannya. Bahkan mungkin bisa jauh lebih parah. Bagaimana tidak? Orang yang saya cintai dengan sangat justru berjalan mundur dari saya dan mengatakan berbagai hal yang tajamnya melebihi sebilah pisau. Saya mengerti, saya harus mengerti dia, saya tidak boleh menjadi egois. Itu yang saya katakan pada diri saya. Dia memberi saya pilihan apakah saya masih kuat menjalani hubungan yang seperti ini. Kalau saya mengatakan ‘ya’, maka kami berlanjut. Saya dengan berani menyanggupinya. Di sisi lain karena saya merasa saya memang mampu melewatinya apabila saya dan dia berpacaran seperti teman, seperti yang dia katakan sebelumnya. Berpacaran seperti teman. Itu adalah kalimat yang sebenarnya sangat tidak bisa diterima otak saya. Muncul pertanyaan dalam pikiran saya, “Lantas untuk apakah kita berpacaran kalau sekiranya aku tetap temanmu dan kamu tetap temanku?”. Tapi di sisi lain, saya pun tidak ingin kehilangan sosok yang sangat berharga dalam diri saya itu, maka saya menyanggupinya.

Tapi hari demi hari, rasa berpacaran semakin hilang bentuknya, sebutan teman pun jauh, saya dan dia seperti dua orang yang baru kenal barang satu atau dua hari. Tidak saling mengetahui, padahal telah tahu sangat dalam (mungkin). Tidak saling berbicara, padahal dulu kami bisa berbicara lewat mata. Perih rasanya andai kamu sekalian mengetahui. Saya ternyata tidak sekuat yang saya pikirkan pada mulanya. Air mata saya kian tak dapat berdiam diri, inginnya melihat dunia luar, keluar dari kelopak mata saya, sampai akhirnya air itu dapat melihat semua orang. Termasuk dia.

Dan inilah saatnya. Tanggal dua puluh satu Oktober tahun dua ribu dua belas. Dia pun memutuskan untuk benar-benar menjadi teman dengan saya, melepas embel-embel ‘pacar’, membuang saya ke dalam sumur kegelapan. Sungguh miris nasib cinta saya untuk dia : berakhir di tempat pembuangan sampah, hanyut dalam sungai keruh, terbawa ke peradaban asing, sampai akhirnya membusuk terdampar di sebuah daratan bersama seluruh rasa yang berlabelkan ‘TIDAK LAGI DIBUTUHKAN’. Ya, dia sudah tidak membutuhkan cinta dan kepedulian saya lagi. Dan saya hanya seorang kekasih yang dibuang, dipukul mundur, dibuat menyerah bahkan tanpa perlawanan apapun dari diri saya sendiri. Rakyat Maluku, Aceh, Bali, dan beberapa daerah lain mungkin boleh menyerah terhadap Belanda, karena mereka setidaknya sudah sempat berjuang melawan Kompeni. Tapi apa yang saya lakukan? Ketika dia mendeklarasikan keputusannya tepat di hadapan saya yang sedang berderai air mata, saya bahkan tak mampu memperjuangkan cinta saya sendiri. Saya begitu lemah dan raga saya hanya bisa memeluk orang terdekat saya. Semuanya karena saya  berpikir, “Untuk apa saya perjuangkan cinta saya kalau orang yang akan saya berikan cinta pun sudah tidak membutuhkannya lagi?”. Ya, saya pikir tidak akan ada gunanya saya menahan dia di dalam hati saya, karena hati saya bukan penjara. Hati saya bukan tempat untuk menciptakan derita orang, hati saya bukan untuk memenjarakan cinta, hati saya bukan untuk membuat orang yang saya cintai menderita. Hati saya hanya untuk orang-orang yang sekiranya akan berbahagia jikalau ia hidup dengan saya. Hati saya tempat untuk perdamaian. Maka saya dengan rela, melepas dia pergi.

Hari itu, pada malam hari setelah deklarasi yang terjadi di sore harinya, saya jatuh sakit. Entah karena saya terlalu banyak menangis sehingga kepala saya menginginkan dirinya untuk meledak atau entah karena apa. Yang jelas saya demam semalaman, padahal esok harinya Senin, dan saya memiliki tugas. Jadilah saya meminta bantuan teman untuk mengerjakan tugas kelompok karena saat itu yang mampu saya lakukan hanyalah berbaring. Memalukan. Makan pun terasa sangat mual bagi saya, tak ada makanan dan minuman yang terasa nikmat malam itu. Ibunda saya mengetahuinya. Beliau memberikan kalimat penyemangat untuk saya dan ya, itu satu-satunya obat yang cukup menenangkan walau saya harus mendengarkan Ibunda saya sambil menangis dan Ibunda saya berkata-kata menyemangati saya dengan harus mendengar saya menangis. Saya malu dengan Ibu, Ibu dulu pernah bilang, bahwa beliau tidak pernah ketika muda menangis hanya karena seorang lelaki. Ibu saya begitu kuat, begitu merdeka, tapi saya begitu lemah dan terjajah. Sungguh memalukan buat saya.

Esok harinya saya bangun dengan mata yang bentuknya berubah dan keadaan tubuh yang jauh dari kata sehat. Meskipun demam saya sudah hilang, tapi seolah indra-indra saya menolak untuk beraktifitas dan psikis saya sudah jatuh ke kolam kehancuran. Tak ada istilah semangat pagi di hari itu walau teman-teman saya memeluk saya dan menyemangati saya. Terima kasih, kawan.

Hari demi hari saya lewati. Membawa serpihan hati yang serpihannya sudah menyebar ke seluruh tubuh saya saking hancurnya, beberapa di kepala, beberapa tersebar di sekitar alat pencernaan, dan bagian lainnya mungkin menyebar turun ke kedua kaki saya. Butuh lebih dari dua bulan untuk serpihan-serpihan itu berkumpul kembali ke tempat yang seharusnya.

Dan di hari-hari itulah, jiwa dan hati saya diketuk-ketuk oleh utusan-utusan Allah. Membangkitkan saya kembali. Subhanallah.

Pada awal hari-hari kelam itu, saya memilih bercerita hampir ke setiap teman dekat saya. Saya mengumpulkan saran, semangat, serta kenyamanan. Namun ternyata itu membuat keadaan menjadi lebih buruk, membuat saya terlihat seperti orang gila dan bodoh. Tapi saya tetap mengambil sesuatu yang bisa saya pelajari dari semua itu.

Saya kemudian merenung sepuluh kali lipat lebih sering daripada sebelumnya di mana merenung adalah rutinitas saya. Saya berpikir dan terus berpikir. Mempelajari pribadi setiap orang, mengabaikan sifat buruk mereka, dan mengambil setiap nilai positif yang ada. Saya pun hanya bercerita kepada orang-orang tertentu. Tapi kemudian keadaan kembali berubah, bukan menjadi lebih baik, sebaliknya.

Di tengah semua itu, saya merasa sangat bersyukur, sekolah saya, akademis saya, tidak terganggu sama sekali dan bahkan saya mampu membuktikan bahwa perempuan yang mereka sebut penggalau pun bisa meraih prestasi yang cukup gemilang. Alhamdulillah. Dari sana saya kembali membangun pribadi saya yang lebih baik. Saya mengalahkan lebih dari empat puluh orang yang ‘sehat’, yang tidak galau, yang bahagia, saya mengalahkan mereka semua. Tapi itu bukan untuk dibanggakan, yang harus dibanggakan adalah kedua kaki saya yang masih tetap berdiri kuat setelah terjatuh dalam kecelakaan yang begitu tragis. Saya pun membuat kedua orang tua saya bangga. Alhamdulillah.

Selanjutnya pintu-pintu hati saya secara bertahap diketuk oleh para utusan Allah. Membuat doa saya lebih panjang. Membuat saya betah berlama-lama bersimpuh di atas sehelai sajadah.

Yang mengetuk pintu hati saya dengan sangat keras adalah ketika saya mendengar kabar duka datang dari mantan saya, bahwa Ibundanya meninggal dunia. Sungguh air mata saya tak dapat ditoleransi lagi. Otak kecil saya bertanya “Mengapakah engkau menangis begitu pedih ketika Ibundanya pergi? Bukankah engkau belum mengenalnya? Bukankah beliau hanya seorang Ibunda dari bekas pacarmu?”. Dan saya tidak dapat menjawabnya dengan kalimat. Hanya perasaan saya yang mungkin dapat menjawabnya entah dengan bahasa apa. Seolah saya adalah seorang kerabat dekat semacam keluarga yang ditinggalkan. Yang jelas, saya hanya menangis. Makanan yang ada di depan saya yang masih penuh semangkuk itu akhirnya saya berikan pada teman saya, Mega Rishe, (yang saat itu menjadi saksi yang melihat reaksi pertama saya) karena saya tidak ada hasrat untuk memakannya lagi, seakan menangis  membuat saya jauh lebih kenyang. Saya hancur. Seluruh tubuh saya terus bergetar. Bahkan untuk memberikan mantan saya semangat pun saya tidak bisa. Saya tidak mampu memilih kata-kata yang bagus untuk menguatkan dia, saya hanya mengirimkan pesan sesuai dengan suara hati saya. Saya adalah seorang yang mengetik pesan (SMS) tergolong cepat, tapi saat itu, ketika saya akan mengirimkan kalimat-kalimat hati saya untuknya, saya mengetik sangat lamban. Jari-jari saya bergetar, air mata berjatuhan di atas layar ponsel saya. Entah kenapa saya begitu berlebihan, tapi saya tidak melakukannnya dengan sengaja, saya bahkan tidak begitu sadar dengan setiap gerak yang saya lakukan. Sebenarnya sebelum saya mendengar kabar duka itu, ada suatu kejadian aneh yang terjadi pada diri saya, tapi tidak perlulah kita sangkut pautkan.

Dari kejadian itulah saya mengambil bagian-bagian puzzle, di antaranya sebuah kekuatan, kesabaran, keikhlasan, respek yang lebih terhadap orang tua serta arti penting kehadiran sebelum kehilangan. Terketuklah lagi hati saya. Dan saya semakin mendekatkan diri pada Allah SWT. Saya berusaha memberikan seluruh cinta saya kepada Allah.

Kemudian kehidupan berlanjut. Akhirnya saya menyadari bahwa saya tidak lagi bercerita kepada orang-orang. Saya tidak lagi berkeluh kesah tentang kegelisahan saya atas mantan saya kepada teman-teman saya. Saya tidak lagi menjadi seorang pencurhat, saya sekarang lebih memilih menjadi seorang pendengar. Ternyata sikap saya ini memberi pengaruh yang lebih baik pada diri saya.

Saya membaca kisah-kisah inspiratif dan kalimat-kalimat motivatif. Saya terbantu. Ditambah dengan sebuah tayangan di televisi yang menambah keteguhan dalam diri saya untuk menjadi lebih baik. Salah satu medianya adalah Twitter. Ternyata Twitter memang bermanfaat bagi saya dan saya kira akan bermanfaat juga bagi orang-orang yang mencari manfaat. Saya mengambil sumber dari mana-mana untuk meyakinkan bahwa saya melakukan tindakan yang benar, sesuai dengan ajaran agama Islam. Sumber utama tentunya Kitabullah, Al-qur’an.

Akhir-akhir ini saya sering berakrab diri dengan Al-qur’an. Ketika membaca Al-qur’an, subhanallah walhamdulillah, hati saya bisa menemukan ketenangan dan kedamaian. Terkadang saya menangis setiap membaca terjemahannya, sungguh kalimat-kalimat indah yang membersihkan jiwa. Ketika mencermati ayat-ayatnya, saya menyadari bahwa ada beribu kotoran dalam diri saya yang harus segera saya bersihkan, saya merasa tidak cukup untuk memohon ampunan seratus kalipun. Rasa takut kepada Allah kian bertambah dan saya harap terus bertambah setiap detiknya. Karena rasa takut itulah yang akhirnya akan bisa terus membuat saya menjaga diri dari segala yang diharamkan dan dapat menjauhkan diri saya dari maksiat. Al-qur’an membuat keyakinan saya semakin kuat, dan insyaAllah membangun spiritual saya menjadi lebih kokoh. InsyaAllah.

Dan perlahan, hati saya membaik, kembali ke bentuk semula meski goresan-goresan di permukaannya ternyata permanen. Saya sepenuhnya percaya kepada Allah SWT. Saya yakin Allah akan membawa saya menuju taraf kehidupan yang lebih baik dan takdir yang indah. Maka saya berusaha terus dan terus mendekatkan diri kepada Allah, mencoba menjauhi segala larangannya, mencoba memperbaiki kebiasaan buruk saya, berlaku baik kepada setiap manusia, menjaga indera-indera saya dari segala yang diharamkan. Dan semua itu tidak akan pernah ada akhirnya karena saya akan terus berusaha dan melakukan semua itu sampai akhirnya saya harus pulang ke Rahmatullah.

Saya dalam lingkungan sosial menjadi menutup mulut. Saya mendapat pelajaran dari seorang selebriti bahwa akan lebih baik jika kita tidak memberitahukan masalah kita kepada orang lain kalau sekiranya kita bisa menyelesaikan dan berjuang untuk itu sendirian. Maka apabila saya ada masalah atau ada sesuatu yang mengganggu hati saya, saya hanya mengadu kepada Allah, tempat bercerita paling nyaman dan tidak akan menimbulkan masalah baru dalam hidup saya seperti halnya ketika saya bercerita kepada teman-teman saya. Alhamdulillah.  Saya ingin lebih menjaga mulut saya dan saya pun berpikir lebih baik diam daripada banyak mengatakan hal-hal yang tidak penting yang akan merusak amalan saya maupun yang akan melukai hati seorang teman. Semoga saya bisa selalu menjaga mulut saya, aamiin.

Saya terketuk lagi dengan sebuah lirik lagu lama yang dulu saya sempat sepelekan.
“Jika Surga dan Neraka tak pernah ada, masihkah kau bersujud kepadanya?”

Astagfirullah. Sungguh saya malu, saya bingung menjawabnya. Saya sangat malu. Tanpa pikir panjang, saya mulai belajar melakukan semua hal dengan diniati semata-mata karena Allah SWT. Benar-benar karena Allah. Saya terus berusaha untuk meniatkan segalanya karena Allah. Dan saya tidak boleh berhenti.

Selanjutnya saya terus membentengi diri dengan melakukan sunnah-sunnah dalam Islam. Saya mulai membiasakan diri membaca doa setiap kali melakukan sesuatu, entah itu memakai pakaian, bercermin, naik kendaraan, masuk kamar mandi, dan lain-lain. Saya mulai berkembang dari Taman Kanak-kanak Islam, dan saya telah diajari beribu hal mengenai Islam, saya termasuk orang beruntung yang telah memiliki bekal yang sehat sejak kecil dan saya akan sangat malu apabila tidak mengamalkan apa yang sudah saya pelajari tersebut. Saya muslimah. Saya ingin sekali kuat. Kuat dengan agama saya. Saya ingin menjadi manusia yang siap menghadapi ajal kapanpun dengan bekal yang akan membawa saya ke surga. Dan ketika itulah cobaan-cobaan mendera kehidupan saya kembali.

Dari cobaan yang kecil sampai yang besar tak ada hentinya menghampiri. Saya kemudian berpikir inilah saatnya saya membuktikan diri saya bahwa saya bisa. Seperti halnya ketika menghadapi ulangan di sekolah, kita sudah memiliki ilmu sebelumnya, kita sudah belajar sebelumnya dan ketika mengahadapi ulangan, di sanalah kita membuktikan kemampuan kita. Ya, ketika kesulitan datang dan mencoba meruntuhkan benteng kerajaanmu, itu bukanlah sebuah bencana, itu sebuah ujian, cobaan, peringatan dari Allah Yang Maha Kuasa.

Jangan menghindar, justru hadapi. Kalau sekiranya kita sudah berusaha dan sudah tak mampu menghadapinya, berdoalah. Saya melakukan itu dan ternyata itu membuat saya kuat.

Saya punya contoh konkritnya dan ini sudah terjadi pada saya lebih dari satu kali. Suatu pagi, saya bersungguh-sungguh meniatkan diri untuk segala hal yang baik, melakukan fardhu dan sunnah  dan ketika melewati pintu rumah menuju alam bebas, saya mengucapkan bismillah dan saya merasa sangat ringan pada jiwa saya. Saya siap menjalani hari. Saya akan baik-baik saja dan segala hal yang baik akan terjadi pada saya, itu yang saya yakini. Tapi kemudian, justru hal-hal buruk menimpa saya. Saya terkena masalah di satu dan dua tempat, dan saya mendapat tekanan-tekanan. Pada awalnya saya bertanya, “Mengapakah semua yang mengecewakan ini terjadi padahal saya telah bersungguh-sungguh berdoa?”. Tidak perlu pikir panjang, saya tahu, itu adalah cobaan dari Allah SWT. Setelah saya memiliki keyakinan yang begitu kuat, tentunya saya harus melewati berbagai rintangan, rintangan yang sekiranya dapat menggoyahkan keyakinan saya, dan yang bisa melawannya hanya saya sendiri. Saya sendiri yang harus menghadapi seluruh cobaan itu, tetap berdiri di atas hamparan jalan Allah tanpa menghiraukan cobaan silih berganti menggoda dan merayu saya untuk keluar dari jalan suci ini. Sejauh ini, saya masih bisa melewati itu semua, insyaAllah, Alhamdulillah, semoga saya tetap dibuat istiqamah dengan keadaan saya ini, bersyukur kalau saya bisa lebih baik dari sekarang.

Padahal kejadian-kejadian yang menjadi cobaan bagi saya sangatlah menyakitkan, tapi saya tidak mau dan tidak boleh menyerah. Saya harus terus berusaha walau sebesar apapun luka dalam jiwa saya. Karena Allah menciptakan dan memberi cobaan tersebut bukan dengan tujuan menghancurkan saya, tapi justru untuk membuat saya semakin baik.

Ingatlah, Allah tidak pernah menciptakan sesuatu yang merugikan bagi manusia. Yang membuat rugi suatu hal adalah manusia itu sendiri. Allah tidak pernah menciptakan sesuatu yang buruk. Yang membuat buruk suatu hal adalah manusia itu sendiri. Semua ciptaan Allah selalu punya manfaat apabila digunakan secara benar. Maka bersyukurlah untuk setiap yang ada dan dimiliki. Apabila dilanda ujian yang berat, ingat yang tadi, bahwa Allah menciptakan dan memberikan sesuatu itu tidak pernah buruk dan merugikan, ujian itu meskipun menyedihkanmu, tapi Allah memaksudkannya untuk memberikan hidayah, hikmah dan pelajaran kepadamu. Sama halnya ketika mendapat penyakit, kita begitu tersiksa dan lemah, tidak berdaya ketika penyakit itu menyerang kita, tapi Allah justru memberi penyakit itu selain untuk menguji kesabaran kita, juga sebagai penghapus dosa, dengan catatan apabila yang sakit merasa ikhlas atas penyakit itu. Sangat bermanfaat bukan untuk kita para manusia yang tak akan pernah lepas dari dosa? Jadi syukurilah semua itu dan jangan anggap semua itu akan merusak kehidupanmu. Seperti kata orang, selalu ada hikmah di balik setiap kejadian. Saya pun meyakini hal itu.

Ringkasnya, saya mendapat pelajaran dari sebuah kisah pedih yakni putusnya hubungan saya dengan pacar  yang saya cintai, dan kemudian peristiwa-peristiwa di dalamnya menyadarkan saya dan mengetuk hati saya untuk mencari kehidupan yang lebih berkah, dan berusaha menciptakan pribadi seorang Islam.  Dan saya merasa lebih baik setiap harinya meski cobaan terus datang, sejak saya mendekatkan diri pada Allah.

Dan yang terakhir. Cinta.

Cinta yang utama adalah cinta kepada Allah. Kemudian orang tua. Alangkah lebih baik kalau kita memiliki hati dan jiwa yang penuh cinta. Ingatlah bahwa cinta bukan hanya untuk orang-orang tertentu. Tapi untuk semua orang. Allah menciptakan kita lalu memberikan segalanya yang kita butuhkan adalah karena Allah mencintai kita. Kita dibentuk karena cinta Allah. Lantas kenapa kita tidak hidup dengan cinta juga? Saya mendapat inspirasi ini dari adik kelas saya yang sangat luar biasa ketika ada kumpul ekstrakurikuler Bahasa Inggris. Terima kasih. Saya sangat setuju pada apa yang dikatakan adik kelas saya tersebut. Bahwa kita harus hidup dengan cinta, maka kita akan menemukan kedamaian. Kita memerlukan cinta yang benar. Dan cinta yang benar tak akan pernah bisa lepas dari ketulusan. Cinta dan ketulusan, adalah satu kesatuan. Ketika kita memperlakukan seseorang atau sebuah benda dengan penuh rasa cinta yang tulus, tak akan pernah ada kerusakan. Begitu pula dengan hati-hati manusia yang hancur, itu semua hanya dikarenakan hati yang tak ada cinta dan tidak ada ketulusan. Maka cintailah segalanya secara benar, janganlah pula berlebihan karena yang berlebihan tidak akan jatuh menjadi hal baik.

Seorang guru Pendidikan Kewarganegaraan di sekolah saya, Bapak Aas, mengatakan bahwa kita hendaknya menjadi manusia yang bukan hanya merasa bisa, tapi bisa merasa. Tahu artinya? Benar. Kita menuntut ilmu ataupun melakukan hal lainnya jangan hanya dengan logika, jangan hanya dengan otak, jangan hanya dengan akal dan pikiran, tapi juga harus dengan hati. Tidak mungkin kita akan nyaman dengan suatu pelajaran kalau tidak ada hati. Dan kalau kita tidak nyaman dengan semua pelajaran, kita akan terhambat, akan tertinggal dari manusia lain dan ilmu yang barokah tidak akan datang kepada kita.

Jadi cobalah untuk bersikap bukan hanya dengan berpikir tapi juga merasakan. Gunakan akal pikiran serta hati dengan porsi yang seimbang. Hati yang lembut dan penuh cinta kasih serta akal pikiran yang bersih dan benar sangat dibutuhkan untuk kedamaian hidup dan akhirat. InsyaAllah.

Setelah kejadian yang sangat pahit yang begitu menampar saya, saya merasa bahwa proses kedewasaan saya terbantu dan lebih cepat membuat lingkaran. Aamiin. Alhamdulillah.

Kisah ini bukan sebuah sarana bagi saya untuk berunjuk diri, tapi untuk harapan akan adanya inspirasi yang dihadirkan dalam kisah saya ini. Bahwa kehidupan kita dicipta oleh Allah maka hanya kepadanyalah kita seharusnya berserah diri. Mari kita berlomba-lomba menjadi umat Islam yang baik yang mencintai Allah. Ingatlah selalu bahwa Allah akan selalu mencintai kita. Allah akan selalu mendengar doa-doa kita dan akan mengabulkannya. Janganlah pernah kita melepas diri dari Allah.

Marilah kita jauhkan diri kita dari hal-hal yang diharamkan dan hal-hal yang sekiranya tidak baik. Lakukan apa yang benar menurut Islam. Seperti yang dikatakan Hadis Riwayat Muslim, bahwa Allah sungguh mewajibkan kepada kita untuk berlaku ihsan yaitu dengan baik dan maksimal. Jangan setengah-setengah dalam beribadah, maksimalkan segalanya agar habluminallah kita semakin kuat. Dan saya telah membuktikan bahwa menjadi dekat dengan Allah menghadirkan kehidupan yang lebih baik setiap harinya, bahkan setiap detiknya. Alhamdulillah. Subhanallah. Allahuakbar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: